Surat Terbuka Gianluigi Buffon Untuk Scudetto Kesepuluh

Kapten Juventus itu menulis surat terbuka yang emosional, setelah berhasil merengkuh Scudetto kesepuluh sepanjang kariernya.

Juventus akhirnya memastikan Scudetto keenam beruntun akhir pekan lalu setelah menumbangkan Crotone 3-0, pada giornata 37 Serie A Italia.

Gelar tersebut menjadi sangat spesial untuk kapten Juve, Gianluigi Buffon, karena kini dirinya resmi jadi pemain dengan koleksi Scudetto terbanyak sepanjang sejarah.

Melalui media terkemuka Italia, La Stampa, Buffon lantas menuliskan surat terbuka yang terasa amat emosional soal raihan Scudettonya musim ini.

Buffon mengungkapkan bagaimana perasaannya, terutama tatkala dirinya berjuang di Serie B Italia sedekade silam. Superman juga tak malu menyebut koleksi Scudetto-nya ada sepuluh, menyertakan dua Scudetto Juve yang dicabut akibat Calciopoli.

"Kami memenangkannya lagi untuk keenam kalinya secara beruntun! Rekor ini saya raih bersama Barzagli, Chiellini, Bonucci, Marchisio dan Lichtsteiner kami adalah para senior di Juve [saya tidak bermaksud mengatakan mereka sudah tua, kecuali pada Barzagli, dia memang sudah tua!]," buka Buffon.

"Setelah berbulan-bulan banyak orang mengatakan bahwa Serie A sangat mudah, kompetisi ini mengalami kemunduran karena Juve terlalu mendominasi. Saya tidak setuju. Mereka yang belum pernah memenangkan apapun akan menganggap enteng kerja keras mereka yang sukses. Untuk Scudetto keenam beruntun ini kami tidak menyangka hal ini bisa terjadi."

"Kami favorit, tentu saja, karena apa yang telah kami bangun selama lima musim terakhir. Tapi kami memulai segalanya dari nol, [kapasitas] kami dipertanyakan, kami bertempur dan kami menang. Tidak ada yang memberi kami apapun."

"Setiap tim yang menghadapi kami memberikan segalanya, semua orang bersorak melawan kami. Itu normal, yang terkuat selalu yang paling dibenci. Saya pribadi  tetap antipati dan mengabaikan pada mereka yang iri untuk prestasi yang telah dicapai klub ini.

"Kata pertama yang saya pikirkan setelah setiap kemenangan adalah 'besok'. Saya bangga dengan sederet trofi yang telah saya menangkan. Saya memiliki lebih dari yang saya inginkan dari apa yang saya bayangkan, tentu lebih dari apa yang saya minta.

"Di depan garis finish yang baru, dalam menghadapi tujuan baru untuk dicapai, saya selalu memiliki kesadaran untuk memberikan segalanya. Rasa syukur yang terus menerus dalam hidup yang memaksa saya untuk menjadi seorang optimis dan mendorong saya untuk melampaui diri saya sendiri, melampaui kemenangan, melampaui batas.

"Saya memiliki enam Scudetto berturut-turut, tapi juga total ada sepuluh Scudetto dalam karier saya [termasuk dua yang dicabut dalam fitnah [Calciopoli]. Benr, ada sepuluh dan saya tidak malu mengatakannya. Saya memenangkan semuanya di atas lapangan.

"FIGC, Wikipedia atau liga [Serie A] mengatakan ada delapan. Saya tidak akan membahas wasit, hakim atau undang-undang, tapi tidak ada yang bisa menolak saya untuk merasakan sensasi jadi juara.

"Cinta pertama saya adalah seorang gadis yang saya temui di SMA, tapi itu adalah cinta yang tak berbalas. Tapi yang penting, bagi saya, adalah cinta. Pengakuan dari seseorang bukanlah segalanya.

"Beberapa lagu Vasco atau puisi Neruda seperti menunjukan diri saya. Saya tidak menuliskannya sendiri, tapi itu relatif karena pada akhirnya seperti yang ditulis oleh Troisi di 'Il Postino', puisi bukan selalu tentang siapa yang menulisnya, tapi siapa yang membantu menulisnya [sebagai inspirasi].

"Tidak ada kontroversi dan saya tidak mau membuka-tutup babak hidup tersebut. Saya bangga dengan apa yang saya bangun, menang dan kalah di lapangan. Saya tidak pernah sendiri, selalu dalam bersama tim! Sebuah kebanggaan yang kembali kepada saya adalah musim panas 2006 silam. Musim panas yang panas dengan hiruk-pikuk. Tapi juga musim panas yang membuat kami harus mengubah sejarah atau lebih tepatnya menulis sejarah. Tidak ada yang seperti kami sebelumnya"

"Saya sedang memikirkan Pavel [Nedved], Alex [Del Piero], David [Trezeguet], Camo [Mauro Camoranesi] ... dan kemudian saya sendiri. Kami memilih untuk tinggal bersama untuk menghormati jersey, klub, dan tifosi. Kami memang kehilangan segalanya tapi kami memiliki sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan apapun: rasa hormat dan kasih sayang.

"Saya tidak ingin memasukan kata-kata saya ke dalam kamus atau kutipan-kutipan, tapi tanpa semua orang yang bekerja di lapangan dan di luar lapangan yang telah membiarkan saya melakukan yang terbaik, semua ini tidak mungkin terwujud.

"Dan yang paling menakjubkan adalah bahwa semua kisah luar biasa ini masih belum berakhir," pungkasnya.

Topics