Tak Punya Matador Sejati, Spanyol Ulangi Mimpi Buruk Di Brasil?

Ambisi Spanyol untuk wujudkan hat-trick kampiun Euro makin terancam, seiring krisis matador sejati di lini depan.

Terinspirasi dari Gladiator pada era Romawi kuno, Spanyol dengan sejarahnya yang besar kemudian membentuk budaya pertarungan antara manusia dan hewan buas yang bernuansa lebih 'halus', dalam wujud tradisi Matador.

Matador merupakan sebutan untuk si manusia yang diharapkan bisa menaklukkan banteng ganas, hanya dengan sehelai kain merah. Resikonya memang tak separah Gladiator yang cuma diberi pilihan antara hidup dan mati. Jika Matador gagal menaklukkan sang banteng, dirinya 'hanya' berpotensi menderita cedera ringan, parah, baru kemudian tewas. Karenanya bila berhasil, Matador akan dianggap sebagai pahlawan besar.

Publik Spanyol kerap menggunakan analogi Matador di berbagai aspek kehidupan. Tak terkecuali untuk olahraga yang paling mereka cintai dan gemari, yakni sepakbola. Dan harus diakui jika pahlawan sepakbola umumnya berposisi sebagai penyerang. Tak percaya? Coba tengok posisi deretan pemenang di berbagai penghargaan individual sepakbola.

Pada era emasnya yang belum terlalu lama berlalu, kesuksesan Spanyol berturut-turut menjuarai Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012 jelas tak bisa lepas dari peran bomber utamanya, yakni David Villa dan Fernando Torres. Nama pertama merupakan top skor di Euro 2008 dan Piala Dunia 2010, sementara nama yang disebut terakhir meraih predikat serupa di Euro 2012.

Namun seperti kata Johan Cruyff, "Gigi waktu telah menjalankan tugasnya." Bersamaan dengan generasi emas Spanyol yang menua, Villa dan Torres pun harus mengakhiri kisah fantastisnya pada Piala Dunia 2014 di Brasil yang berkesudahan dengan mimpi buruk.

Kini dengan bantuan sisa-sisa pahlawan masa lalunya, Spanyol tengah berjuang untuk bangkit kembali lewat generasi barunya. Sayang, melihat perjalanannya menuju Euro 2016, mimpi buruk di Brasil terancam terulang. Bukan hanya karena generasi barunya belum matang, tapi juga lantaran mereka tak punya sosok "Matador" sejati.

Sejak peninggalan Villa dan Torres usai Piala Dunia 2014, hanya ada lima striker murni yang pernah dipanggil pelatih kepala Spanyol, Vicente del Bosque. Bukan tanpa alasan, jumlah minim itu hadir seiring kebutuhan sang juru taktik dalam formasi andalan 4-3-3, yang hanya butuh satu bomber murni.

Dari kelima nama yang pernah dicoba, penyerang Valencia, Paco Alcacer, jadi sosok yang paling sering dipanggil dan mengecap caps. Rasio gol-nya lumayan dengan 0,46 gol per partai. Namun sosoknya tak krusial, karena deretan gol yang ditorehkannya hanya lahir melawan tim-tim sekelas Slowakia, Makedonia, dan Luksemburg. Performanya di level klub pun tak memuaskan dengan sejauh ini hanya mencetak 11 gol di semua kompetisi.

Setelahnya ada Alvaro Morata dan Diego Costa, figur penyerang paling populer asal Spanyol saat ini. Ironisnya, keduanya kesulitan mendapat tempat utama di dua tim top yang dibela, yakni Juventus dan Chelsea. Kondisi itu berimbas ke timnas, seturut fakta yang mengungkap kombinasi gol mereka mentok di angka dua.

Harapan lantas terletak pada Aritz Aduriz. Ia begitu fantastis musim ini, dengan koleksi gol-nya di level klub jadi yang terbaik di antara pesaingnya. Dari 47 penampilan bersama Athletic Bilbao musim ini, 31 gol sudah dicetaknya. Pemanggilan pertamanya di era Bosque dalam duel kontra Italia pekan lalu pun langsung membuahkan satu gol. Sayang, mantan Valencia ini tak menjanjikan masa depan menilik usianya yang sudah 35 tahun.

Bagaimana dengan Rodrigo? Ah, penyerang kelahiran Brasil itu layak dikeluarkan dari hitungan, karena tak pernah lagi dipanggil sejak debutnya pada Oktober 2014 silam.

Del Bosque bukannya tak menyadari krisis di lini depannya. Dalam komentar terbarunya, dirinya sampai mengultimatum bahwa dari empat nama saja yang bisa diperhitungkan, mungkin hanya akan ada dua penyerang murni yang diikutkan ke Euro 2016.

“Saya harus jujur, saat ini kami punya empat penyerang yang bisa tampil di Euro 2016. Jumlah itu bisa saja disusutkan mungkin menjadi tiga, atau bahkan dua. Masih ada waktu untuk mengevaluasinya," tukas Bsoque, seperti dikutip Football Espana.

Tekanan-tekanan psikologis pun terpaksa dilakukan pelatih berusia 65 tahun tersebut, guna mendongkrak performa penyerangnya. Morata pernah dicoret lantaran tak konsisten di level klub, Alcacer begitu jarang disanjung meski jadi bomber tertajam, hingga Costa yang tak ragu ditinggalkan ketika komitmennya dipertanyakan.

Dengan situasi seperti ini, apakah Spanyol harus mengulang keterpaksaan mereka menjadikan Cesc Fabregas sebagai false nine di Euro 2012 lalu? Mungkin saja, tapi langkah itu bisa jadi bumerang. Sebagus-bagusnya komposisi lini belakang dan tengah Spanyol, mereka tetap butuh Lucky Bastard di lini depan untuk jadi juara.

Spanyol butuh Matador sejati yang tiba-tiba hadir mencetak gol di tengah keputusasaan, layaknya Fernando Llorente pada babak 16 besar Piala Dunia 2010 dan Torres di final Euro 2008 dan 2012.

Meski begitu, ketumpulan yang dialami Spanyol juga tak layak 100 persen ditumpahkan pada para bomber murninya. Faktanya, minimnya kans yang dikreasikan para penggawanya di sektor yang lebih ke belakang juga berperan besar.

Sorotannya terletak pada dua partai uji coba yang digelar Spanyol dalam sepekan terakhir. Hasil imbang 1-1 kontra Italia dan kacamata hadapi Rumania bahkan sampai membuat Del Bosque frustrasi. "Dalam dua laga uji coba, semua sektor di tim kami tidak bermain sebagai mana mestinya. Kami tak bermain sesuai identitas kami," ujar sang pelatih, usai duel hadapi Rumania, seperti dikutip Marca.

Dari komentar Del Bosque tampak jelas bahwa Spanyol tak bisa menerapkan filosofi Tiki-Taka dengan sempurna. Regenerasi jadi alasannya, poros Barcelona yang terbentuk dalam masa puncak 2008 hingga 2012 mulai luntur. Ditambah cederanya Andres Iniesta, permainan Spanyol cenderung monoton.

Dalam dua laga tersebut, Spanyol memang mampu mendominasi permainan dengan rerata 63 persen, melepaskan 1.412 operan, dengan akurasi mencapai 84 persen. Namun mereka hanya bisa mengkreasikan 12 peluang mencetak gol, sementara lawannya 'diberi' 30 kans!

David Silva, Thiago Alcantara, dan Isco yang ditugaskan jadi kreator serangan menggantikan Iniesta yang mulai uzur, terbukti gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Belum lagi kombinasi buruk di lini belakang yang dikuasai Gerard Pique, Sergio Ramos, dan Marc Bartra, dalam membendung serangan balik. Untungnya dua kiper utama, David De Gea dan Iker Casillas, konsisten tampil heroik.

Borongan masalah yang hadir dan semakin jelas dalam dua uji coba terakhir, tentu tak bisa diremehkan Del Bosque. Kualitasnya benar-benar diuji dan bisa jadi tugas terberat sepanjang kariernya, karena tuntutan publik dan federasi untuk mencetak sejarah hat-trick Euro. Jika gagal melaluinya, bukan tak mungkin mimpi buruk di Brasil lalu justru terulang di Prancis nanti.

Topics