Tanpa Karim Benzema & Mathieu Valbuena, Prancis bisa apa?

Sejak era Deschamps, bisa terhitung jari Prancis bermain tanpa Benzema-Valbuena. Kini keduanya ditepikan akibat skandal. Apa yang bisa ditawarkan Les Blues tanpa mereka?

Optimisme Didier Deschamps dengan skuat Prancis yang dipastikan tanpa Karim Benzema dan Mathieu Valbuena menjelang laga persahabatan kontra dua tim tangguh, Jerman dan Inggris, boleh dikatakan sudah dipertimbangan masak-masak.

Artinya, sang pelatih sudah menakar kekuatan pasukannya bakal seperti apa saat melanjutkan agenda internasional tanpa diperkuat dua pilar yang selalu diandalkannya tersebut.

Bintang Real Madrid dan Olympique Lyon ini, sebagaimana diketahui, didepak dari skuat. Deschamps sendiri yang memingirkan keduanya menyusul keterlibatan keduanya dalam skandal pemerasan.

Pekan lalu, Benzema didakwa atas upaya pemerasan terhadap Valbuena dengan menggunakan video rekaman asusila sang gelandang, kendati pengacara si striker terus-menerus mengeluarkan bantahan atas tuduhan keterlibatan kliennya.

Selain karena masalah skandalnya ini, Benzema memang tengah dirundung cedera, sementara Valbuena dicoret dari timnas karena alasan psikologis yang disebut Deschamps akan mengganggu bila dipaksakan bermain, walau Valbuena sendiri sejatinya baru saja mengantarkan Lyon memenangkan laga prestisius kontra AS Saint-Etienne dengan skor 3-0.

Deschamps percaya diri, Prancis tetaplah Prancis seperti sedianya biar pun tidak diperkuat dua pentolannya itu. Dia berani menjamin, Si Ayam Jantan akan tetap impresif dengan skuat terbaru hari ini.

"Saya tidak berpikir demikian," tukas Deschamps, mempertegas Prancis tidak akan bermasalah minus Benzema dan Valbuena.

"Saya memiliki kepercayaan diri dengan 23 pemain yang saya seleksi. Para pemain tahu, hal terpenting adalah tim ini. Saya tidak pernah menyimpan penyesalan apa pun."

"Anda tidak bisa hidup dengan penyesalan dan mari melihat ke depan. Ketika saya membuat keputusan, saya akan bersama keputusan saya tersebut," tandasnya, dengan nada yakin.

Prancis tanpa sosok keduanya memang terasa hambar. Bahkan, tingkat keterbutuhan tim akan kehadiran mereka pada skuat terbukti berada di level vital.

Sejak era kepemimpinan Deschamps, perlu diketahui, Les Bleus tidak pernah bermain tanpa Benzema mau pun Valbuena. Sekali pun absen, jumlahnya terhitung jari. Benzema hanya sembilan kali kehilangan tempat sejak sang pelatih menahkodai Prancis pada 2012 silam. Sementara Valbuena terpinggirkan hanya dua kali saja. Luar biasa!

Di ajang bertaraf kompetitif terakhir yang dijalani keduanya, yakni Piala Dunia 2014, Benzema tampil di seluruh laga - bahkan mengemas tiga gol di turnamen empat tahunan itu - sedang Valbeuan hanya sekali berada di bench, itu pun saat Prancis sudah memastikan lolos ke babak 16 besar.

Namun seperti yang diungkapkan Deschamps di atas, tentu meminggirkan mereka diperlukan perhitungan yang matang. Ada dua kemungkinan yang boleh jadi sedang menggelayuti kepala Deschamps saat ini: pertama dia barangkali dipusingkan untuk memilih padanan yang ideal untuk menggantikan keduanya. Kedua, dia benar-benar menyikapi persoalan minus duo pilarnya itu dengan berharap bisa menyimak potensi pemain-pemain lainnya.

Jangan lupakan, Deschamps masih memiliki sosok finisher andal seperti Olivier Giroud, striker Arsenal. Stiker jangkung ini memiliki kans yang besar untuk mengklaim tempat di pos penyerangan saat menghadapi Jerman Jumat ini, disusul Inggris sepekan berselang. Bahkan, bila penampilannya menawan di dua laga itu, Giroud berpeluang merebut jersey No. 9.

Sayangnya, menurut statistik, Giroud adalah tipe striker yang kerap membuang peluang. Salah satu contoh terbaru ketika dia banyak menyia-nyiakan kans dalam duel antara Arsenal dan Tottenham Hotspur akhir minggu lalu.

Deschamps mungkin bisa menimbang-nimbang pada figur sekelas Antoine Griezmann, penyerang dengan keterampilan teknis yang tengah berada dalam form yang aduhai sejak bergabung dengan Atletico Madrid musim lalu - mencetak 27 gol dalam 48 laga.

Namun, Griezmann agaknya lebih berbahaya bila diperankan melebar dengan gaya bermain membelah pertahanan dari sisi pertahanan lawan.

Dengan begitu, Deschamps akan menyisakan tiga opsi lainnya: Alexandre Lacazette, topskor Ligue 1 Prancis musim lalu dengan 27 golnya; remaja 19 tahun Anthony Martial, yang langsung menghadirkan impresi yang kuat sejak gabung Manchester United; atau mengedepankan si senior Andre-Pierre Gignac.

Hat-trick yang dicetak Lacazette saat Lyon bentrok dengan Saint-Etienne harusnya bisa menghapus idealisme Deschamps yang mengacuhkan sang striker muda kala Piala Dunia Brasil lalu dan tak sepantasnya dia tak dipanggil kembali pada kesempatan kali ini.

Menjadikan Martial sosok no. 9 untuk Euro 2016 terbilang memiliki risiko bila melihat pengalaman laga internasionalnya yang masih minim. Tapi sang youngster memiliki kekuatan atletis untuk mengisi pos penyerang tengah. Apalagi dia diberkahi kecepatan.

Sementara, karier internasional Gignac boleh hidup-redup dan tak pernah benar-benar bisa menyemen posisinya di skuat inti. Sejak debut pada 2009, dia 'hanya' mengoleksi 21 caps dan mencetak lima gol. Meski begitu, Gignac sepertinya kembali menemukan ketajamannya sejak bergabung dengan klub Meksiko, Tigres, di mana dia sekarang mengepak 11 gol dalam 14 pertandingan.

Bagaimana dengan suksesor Valbuena? Mungkin loyalis Prancis tak akan keberatan melirik Hatem Ben Arfa, yang kembali dipanggil Deschamps menyusul performa apiknya sejak bergabung dengan Nice dari Newcastle United.

Memiliki peran yang tidak jauh berbeda, sama-sama berpengalaman, pemain 28 tahun ini rasanya akan bisa, setidaknya, menambal segala kebutuhan Prancis akan kehadiran Valbuena secara temporari. Deschamps bahkan tidak sepakat dengan anggapan orang-orang Prancis yang melabeli Ben Arfa "bad-boy".

"Dia bahagia, tentu saja. Di Nice, dia bermain bagus. Dia tersenyum, sejak pertandingan terakhir dan kemenangan terakhir tim mereka," kata Deschamps.

"Saya tidak pernah menilai Ben Arfa sebagai seorang 'bad boy'. Anda menyematkan label sesuai yang Anda inginkan. Saya juga melatihnya saat berada di Marseille. Hari ini, dia bahagia, dan dia menyatakan hal itu."

Cedera yang dialami Paul-Georges Ntep memberi Ben Arfa kesempatan untuk unjuk gigi di Nice, dan dia telah membayar penuh kepercayaan klub. Kini, dia ditantang untuk membuktikan sesuatu di hadapan Deschamps di tengah absensi Valbuena.

Memang tak dimungkiri, Valbuena merupakan ruh penting dari permainan cepat ala Deschamps. Si gelandang punya kemampuan operan bola nan cerdik dengan visi yang imajinatif. Demikian juga Benzema, tampil mobile dan terhubung baik dengan lini tengah, memiliki daya jelajah yang luas di lini depan, juga sebagai passer yang cerdas, dan penyelesai yang mapan.

Akan tetapi, dengan dipastikannya Prancis tampil di Euro 2016 selaku tuan rumah, Deschamps kini tinggal mengevaluasi opsi-opsi keputusan terbarunya sembari bereksperimen dengan wajah yang lain, menakar kapabilitas tim minus Benzema dan Valbuena.

Pada akhirnya, pria 47 tahun itu bisa memilih salah satu dari Benzema-Valbuena untuk diterjunkan di Kejuaraan Eropa tahun depan, atau membawa keduanya, tergantung dari bagaimana mereka menyelesaikan masalahnya di luar lapangan.

Untuk saat ini, mari melihat racikan terkini Deschamps saat bentrok dengan Jerman, Jumat esok.