Tanpa Rival Di Bundesliga Jerman, Berkah & Kutukan Bayern Munich

Die Roten berpeluang melenggang kangkung merengkuh rekor titel Bundesliga keempat beruntun, namun ini bisa jadi kembali berimbas negatif pada perjalanan mereka di Eropa.

Serahkan saja Meisterschale kepada Bayern Munich sekarang! Mungkin itulah yang muncul di benak banyak orang pascapembantaian Borussia Dortmund 5-1 oleh skuat Pep Guardiola di Allianz Arena.

Hasil duel Klassiker pada Minggu (4/10) kemarin semakin mengukuhkan posisi Die Rekordmeister sebagai diktator Bundesliga Jerman. Bayern belum pernah tertahan barang sekali pun musim ini dan dengan nilai sempurna dalam delapan pekan awal, The Bavarians sudah menggenggam keunggulan tujuh poin. Itu adalah gap terbesar di fase musim sedini ini.

Ironis, karena build up jelang pertandingan memosisikan Dortmund sebagai penantang terkuat Bayern setelah mereka cuma finis ketujuh pada 2014/15 lalu, kampanye terakhir Jurgen Klopp di Westfalen. Bareng arsitek anyar Thomas Tuchel, yang, seperti Kloppo, juga eks bos Mainz, BVB sempat meraih lima kemenangan berturut-turut dan menguasai pucuk klasemen sebelum menurun dengan dua hasil seri, dan akhirnya terkapar tak berdaya menghadapi raksasa Bavaria.

Guardiola menolak opini umum bahwa klub besutannya telah mengunci trofi juara: “Titel tidak dimenangkan hari ini. Kami harus tetap membumi.”

Namun, kamp Sabener Strasse pastilah menyadari tak akan ada yang mampu menghentikan mereka menggoreskan rekor empat juara Liga Jerman berurutan apabila menjaga stabilitas di level performa setinggi ini.

Tuchel, yang pernah mencuri kemenangan 2-1 dari Allianz Arena bersama Mainz pada 2010, kerap dipuji sebagai salah satu pelatih muda Jerman paling berbakat dan inovatif. Musim ini ia pun sukses membentuk kembali Dortmund sebagai tim yang tidak cuma punya gegenpressing sebagai senjata andalan – warisan Klopp – tapi juga mumpuni dalam penguasaan bola.

Namun, dalam pertandingan ini ia melakukan eksperimen yang menjadi bumerang untuk Dortmund dan terekspos oleh strategi Guardiola, salah satu idolanya, dan untuk pertama kali sepanjang karier manajerialnya pelatih 42 tahun itu menelan lima gol. Keputusan Tuchel untuk membangkucadangkan Marco Reus bisa dipahami mengingat performa si pemain belakangan ini di bawah standar plus kondisinya pun kurang prima, namun yang bikin kening berkerut adalah langkahnya untuk membongkar back-four reguler.

Tanpa Marcel Schmelzer yang cedera, Tuchel justru menginstruksikan Lukasz Piczczek, seorang bek kanan, untuk mengawal sisi kiri pertahanan. Bek sentral Sokratis Papastathopoulos ditugaskan menjadi bek kanan untuk membatasi pergerakan Douglas Costa, sementara gelandang bertahan Sven Bender diduetkan dengan Mats Hummels di depan kiper Roman Burki.

Sokratis dan Piczczek sempat sukses meminimalisir ancaman Bayern dari kedua sayap, tetapi Tuchel mungkin lupa bahwa skema serangan Guardiola kini semakin kaya dan variatif, dan tidak melulu bergantung pada umpan-umpan pendek atau penetrasi para winger. Simak saja dua gol pertama Bayern yang tercipta di masing-masing babak, semua lahir dari bola panjang yang langsung dikirim Jerome Boateng dari belakang.

Dalam kedua gol terlihat minimnya jam terbang Bender dan Hummels sebagai tandem di jantung pertahanan, plus kegrogian Burki, kiper Swiss 24 tahun yang baru pertama kalinya melakoni Klassiker. Tanpa kesulitan berarti Thomas Muller (26’) sukses membuka angka dan Robert Lewandowski menjadikan skor 3-1 hanya 22 detik dari kick-off babak kedua. Gol Lewy terutama membunuh peluang Dortmund untuk kembali ke permainan.

Harapan kubu tamu sebelumnya sempat terangkat melalui gol Pierre-Emerick Aubameyang (untuk menjadikan kedudukan 2-1) sembilan menit jelang turun istirahat. Melihat skor akhir, Auba tak akan terlalu senang meski dirinya kini tercatat dalam buku rekor sebagai pesepakbola pertama yang selalu bikin gol dalam delapan partai awal pada satu musim Bundesliga.

Rekor bukan hanya milik striker Gabon itu. Lewat brace  ke gawang Burki, Lewandowski menjadi orang ketiga dalam sejarah liga yang mampu membukukan selusin gol hanya setelah delapan putaran, menyusul Gerd Muller (untuk Bayern pada 1968/69) dan Christian Muller (Koln, 1964/65), dan ia pun mengukir milestone lain: pemain pertama di Bundesliga yang mengepak sembilan gol cuma dalam tiga laga konsekutif terakhir!

Tuchel dan Dortmund akan belajar dari kekalahan ini, tetapi saat ini mereka, beserta 16 klub lainnya di Bundesliga, tidak berada di tingkatan yang sama dengan Bayern. Baru dua pekan silam Si Merah juga mencukur runner-up musim lalu, VfL Wolfsburg, 5-1 dalam pertandingan yang diwarnai rekor lima gol Lewandowski dalam sembilan menit, sementara pada akhir Agustus Bayer Leverkusen disikat tiga gol tanpa balas di Allianz Arena.

Ketiganya adalah tim berstatus elite di Jerman. Nyatanya semua bukan rival setanding untuk sang juara bertahan. Tak berarti mereka lemah, hanya saja Bayern yang terlalu superior, dan ini sesungguhnya berlaku juga di kancah Eropa. Barangkali hanya Barcelona dan Real Madrid yang punya kualitas setara. “Kebetulan” dua klub itu pula yang menjegal Bayern di semi-final Liga Champions pada dua edisi ke belakang.

Tentu Bayern tak bisa disalahkan untuk “kediktatoran” mereka. Sang Penguasa Rekor sendiri menggeliat lagi dan dipaksa meningkatkan kualitas mereka seturut dua Meisterschale beruntun yang digondol Dortmund pada 2011 dan 2012 – musim terakhir ini yang paling menyakitkan karena Bayern meraih treble runner-up di Bundesliga, DFB-Pokal, dan Liga Champions. Dengan tekad menghindari peristiwa pahit itu terulang kembali, kubu Sabener Strasse berbenah untuk kembali menancapkan hegemoni di ranah lokal maupun internasional.

Kalau sudah begini, logikanya bisa dibalik. Jika Bayern tergerak untuk menaikkan kekuatan ke level yang bahkan lebih tinggi lagi dari sebelumnya karena termotivasi prestasi Dortmund era Klopp, maka Dortmund dan klub-klub lain di Jerman pun semestinya terlecut melakukan hal yang sama usai melihat dominasi Bayern – walau harus diakui mereka akan membutuhkan waktu untuk itu lantaran tak punya kocek setebal Die Roten.

Pada bursa musim panas kemarin Bayern mencatat pengeluaran €86 juta untuk kian mengilapkan kualitas skuat. Anda akan terpukau melihat tiga pergantian yang dilakukan Guardiola kala menjamu Dortmund. Ia menarik Thiago Alcantara untuk memasukkan Arturo Vidal, Xabi Alonso digantikan oleh Joshua Kimmich, salah satu bintang muda Jerman berprospek cerah, dan Thomas Muller keluar sepuluh menit jelang bubaran guna memberi tempat kepada Kingsley Coman, prodigy Prancis. Jangan lupa bahwa duo winger maut Arjen Robben dan Franck Ribery masih cedera. Singkat kata, amunisi Bayern dihuni tak hanya oleh bintang-bintang kelas dunia yang telah matang, tapi juga sederet talenta belia menjanjikan.

Guardiola enggan mengakuinya, tapi akan dibutuhkan keajaiban bagi rival-rival domestik untuk mengganjal laju Bayern menuju tangga kampiun walau musim ini masih dini. Hanya, titel liga yang terlalu mudah diraih dapat berakibat fatal untuk perjalanan mereka di Benua Biru, seperti dalam dua kampanye terakhir.

Meski baru menjuarai Liga Champions untuk kali kelima pada 2012/13, trofi La Orejona sekarang telah menjadi Cawan Suci bagi Bayern, dan simbol keabsahan legacy buat Guardiola bila ingin dicap sukses di Allianz Arena.

Pada musim treble, Bayern besutan Jupp Heynckes mengawali Bundesliga dengan delapan kemenangan konsekutif dibarengi selisih gol +24. Di klasemen terkini, selain angka delapan di kolom kemenangan, tertera juga +24 di kolom selisih gol Bayern. Tanda berkah untuk ambisi Bayern menjadi raja Eropa lagi atau anak buah Pep malah kembali terkena kutukan karena tak punya pesaing di Bundesliga?