Terungkap, Penyebab Terjatuhnya Pesawat Chapecoense

Hasil investigasi telah mengungkapkan penyebab sebenarnya yang menjadi penyebab terjadinya tragedi kecelakaan pesawat.

Pihak otoritas penerbangan telah mengumumkan bahwa pesawat yang membawa skuat Chapecoense untuk bermain di final Copa Sudamericana terjatuh karena kehabisan bahan bakar sebelum beberapa saat sebelum jadwal pendaratan.

Tragedi mengenaskan tersebut terjadi bulan lalu di Kolombia, mengakibatkan hilangnya 71 nyawa yang sebagian besar merupakan penggawa serta jajaran pelatih klub asal Brasil itu.

Sebelumnya muncul dugaan adanya kesalahan teknis yang menjadi penyebab kecelakaan, namun sekarang telah terkonfirmasi bahwa kesalahan ada pada sumber daya manusia.

Menurut investigasi yang melibatkan pencarian kotak hitam serta temuan bukti-bukti lainnya, pihak otoritas penerbangan sipil pada akhirnya mampu menyimpulkan penyebab kecelakaan yang sebenarnya.

Kolonel Freddy Bonilla selaku sekretaris keamaan penerbangan mengatakan: "Tidak ada faktor teknis dalam kecelakaan tersebut, semuanya murni kesalahan manusia, ditambah juga faktor administrasi, manajemen perusahaan dan organisasi otoritas yang menangani penerbangan ini di Bolivia."

Ia menambahkan bahwa pihak otoritas penerbangan Bolivia dan maskapai yang "menyetujui kondisi bagi rencana terbang pesawat benar-benar tidak bisa diterima."

Pesawat dengan kode penerbangan BAE 146 Avro RJ85, yang terjatuh pada 28 November lalu, mencatatkan jangkauan perjalanan 2,965km, hanya beberapa sebelum Medellin yang merupakan tujuan akhir dari pemberangkatan awal di Santa Cruz, Bolivia.

Sebelum terjatuh, pesawat sempat mengudara lebih kurang selama empat jam dan 20 menit di saat pilot diberi instruksi untuk terbang dalam pola bertahan sebagaimana pesawat lainnya dengan dugaan kebocoran bahan bakal diberi prioritas.

Sebuah pesan radio dari pesawat nahas tersebut mengungkapkan bahwa pilot beberapa kali telah melakukan permintaan untuk pendaratan karena adanya kekurangan bahan bakar dan kerusakan elektrik total.

Dakwaan pun kini mengarah kepada pemilik maskapai LaMia, Marco Antonio Rocha Benegas dan pengendali lalu lintas udara, Celia Castedo, yang keberadaannya sejauh ini belum diketahui dan diduga telah meninggalkan Bolivia dan mencari suaka di Brasil.

Topics