Tidak Ada Yang Mencintai Sepakbola Melebihi Ronaldinho

Ronaldinho selalu bermain penuh kegembiraan setiap kali bola berada di kakinya.


OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter


"Saya hanya punya satu nasihat seperti yang selalu dikatakan ayah saya, 'Bermainlah dengan bola'". 

Begitu bunyi pesan Ronaldinho dalam salah satu iklan komersial yang dibintanginya. Tidak ada yang tidak mengenal Ronaldinho. Jika Anda fans yang baru mengenali sepakbola setelah Ronaldinho mengakhiri karier di Eropa dengan memperkuat AC Milan, saya sangat menyarankan Anda untuk meng-google "Ronaldinho".

Besar kemungkinan, setelah menyimak sejumlah video cuplikan, Anda setuju menyandingkan Ronaldinho selayaknya seorang seniman. Lebih dari itu, Ronaldinho bermain dengan penuh rasa gembira. Dalam satu dasawarsa terakhir, Ronaldinho berhasil mendefinisikan dengan sempurna terminologi "jogo bonito" -- sepakbola idaman masyarakat Brasil. Ketika bola ada di kakinya, semua orang bergembira.

Semua orang termasuk pendukung tim lawan. Tidak percaya? Kembali ke mesin waktu Anda lalu pergi ke Santiago Bernabeu, satu setengah windu yang lalu. Real Madrid menelan kekalahan 3-0 dari seteru abadinya, Barcelona. Tapi, tidak ada hujan air mata dari fans Madrid. Mereka sepakat bangkit dari tempat duduk masing-masing memberi aplaus untuk satu pemain dan hanya satu-satunya pemain di lapangan: Ronaldinho.

"Fiesta! Kalian semua pasti mencintai sepakbola. Seringai dengan gigi kelinci, rambut ikal berkilauan, dengan goyangan ibu jari dan kelingking... Sepatu bersepuh emas dan antusiasme bak anak-anak. Genius yang murni dan tulus... bagaimana orang tidak jatuh cinta kepadanya?" tulis Sid Lowe.

Ungkapan salut fans tuan rumah itu timbul seketika setelah Dinho mencetak gol pamungkas Barcelona. Marca merekam peristiwa langka itu dengan tulisan besar di halaman depan mereka, "19 November 2005: Hari Ketika Barcelona Meninggalkan Bernabeu Dengan Aplaus".

"Saya tidak akan pernah melupakannya, sangat sedikit pemain yang bisa mengalami hal seperti ini," tukas sang bintang Brasil. Pemain Barcelona lainnya yang pernah mendapat aplaus publik Bernabeu adalah Diego Maradona.

Tidak ada yang bisa melupakanmu, Dinho. Termasuk gol cemerlangmu ke gawang Chelsea, delapan bulan sebelumnya. Wasit Pierluigi Collina yang memimpin pertandingan babak 16 besar Liga Champions itu bahkan mengatakan gol Dinho adalah gol terbaik yang pernah disaksikannya semasa berkarier.

Mendapat bola di depan kotak penalti lawan, kaki-kaki Dinho bergerak lincah mencari celah. Ricardo Carvalho mengawasinya, menutup celah, supaya tidak dipermalukan dengan kecohan nutmeg. Tanpa ancang-ancang, Dinho menyepak bola ke pojok gawang. Reaksi terkejut Petr Cech mewakili apa yang dirasakan segenap penonton yang menyaksikannya.

"Rasanya seperti semua orang memencet tombol 'pause' dan selama tiga detik semua pemain berhenti dan saya satu-satunya yang bergerak," bilang Dinho.

Buat Barcelona kedatangan Dinho adalah kecelakaan yang indah. Presiden Joan Laporta awalnya berjanji mendatangkan David Beckham dalam kampanye pemilihan presiden. Nahas, setelah Laporta terpilih, Beckham malah pindah ke Madrid. Sebagai gantinya, Laporta mendatangkan Dinho dari Paris Saint-Germain dengan mengalahkan tawaran Manchester United.

"Ronaldinho berperan besar atas perubahan pada Barça. Waktu itu periode yang sulit dan perubahan yang terjadi seiring kedatangannya sungguh menakjubkan. Pada tahun pertamanya, dia tidak memenangi gelar apa pun, tapi orang-orang jatuh cinta padanya. Kemudian trofi pun berdatangan dan dia membuat semua orang bahagia. Barça harus selalu bersyukur atas segala kontribusinya," puji Lionel Messi.

Tidak ada Dinho, tidak akan ada trofi Liga Champions 2006. Tidak akan ada periode emas Barcelona, tidak akan ada pula kemunculan Messi. Terlebih lagi, tidak akan ada kebahagiaan dalam sepakbola tanpa dirinya.

"Sepakbola itu tentang kebahagiaan. Tentang menggiring bola. Saya menyukai semua gagasan yang membuat permainan ini menjadi indah. Semua gagasan yang indah akan terus bertahan," ujar Dinho, anak favela Porto Alegre yang menjadikan sepakbola sebagai jalan keluar dari kemiskinan.

Anda akan senantiasa menyaksikan Dinho bermain dengan senyuman. Seperti kegembiraan yang sama yang dirasakannya ketika memborong 23 gol kemenangan tim junior Grêmio saat berusia 13 tahun. Kegembiraan yang dibawanya serta ke mana pun dan kapan pun dia berada. Pada hari pertama petualangan Eropa pertamanya bersama Paris Saint-Germain, pada hari kemenangan Brasil merebut Penta di Yokohama, kembalinya kejayaan Barcelona di Paris, bahkan hingga hari perkenalannya di lapangan San Siro.

Kepindahan ke Milan merupakan awal dari akhir karier gemilang sang bintang. Pelatih Carlo Ancelotti setengah mengakuinya, "Penurunan penampilan Ronaldinho bukan hal yang mengejutkan. Kondisi fisiknya selalu tak menentu. Namun, bakatnya tak perlu diragukan."

Milan adalah klub Eropa terakhir yang diperkuat Dinho. Selama sepuluh tahun di Benua Biru, Dinho mengoleksi dua gelar juara La Liga, satu kali scudetto, satu trofi Liga Champions, dan dua kali Piala Super Spanyol. Berbagai penghargaan individual memenuhi curriculum vitae-nya. Setelah Eropa, Dinho kembali ke Amerika Selatan memperkuat Flamengo, Atletico Mineiro, Queretaro, dan Fluminense.

Cinta Ronaldinho (yang pernah lantang mengatakan, "Saya mencintai bola") pada sepakbola kabarnya memudar setelah kekalahan Brasil dari Prancis pada perempat-final Piala Dunia 2006. Fans Seleção tidak mudah menerima kegagalan tersebut.

Guillaume Balague menulis, "Saat itulah cinta Ronaldinho pada sepakbola padam. Tekanan publik begitu berlebihan. Dia tampak kehilangan gairah pada olahraga tempat dia menyalurkan kegembiraan secara personal. Teman-teman dekatnya melihatnya sedih dan depresi pada musim panas itu dan berlanjut setelahnya."

Cintanya mungkin pudar, tapi Dinho tidak pernah berhenti menghibur. Beberapa kali dia tampil dalam laga eksebisi. Hingga pada akhirnya, Rabu (17/1) ini, melalui abangnya, Dinho menyatakan pensiun sebagai pesepakbola. Bisa dipastikan dunia akan mengenang rekaman kariernya dengan penuh rasa gembira.

"Ketika kakimu menerima bola, kamu merasa bebas. Rasanya hampir seperti mendengarkan musik. Perasaan yang akan membuatmu menyebarkan kebahagiaan ke orang lain. Kamu tersenyum karena sepakbola itu menyenangkan. Kenapa mesti serius? Tujuanmu adalah untuk menyebarkan kebahagiaan."

Obrigado, Dinho!