Tidak Berkembang, Manchester United Membosankan

United di bawah arahan Louis van Gaal tidak banyak berkembang. Hal itu tercermin dari hasil imbang 0-0 ketiga beruntun yang diraih selama sepekan terakhir.

Sorotan tajam kini tengah mengarah pada Manchester United arahan manajer Louis van Gaal, yang untuk kali ketiga beruntun mendulang hasil imbang 0-0 selama sepekan terakhir.

Pada akhir pekan kemarin, United yang bertandang ke markas Crystal Palace resmi mencatatkan hat-trick kegagalan mencetak gol ke gawang lawan, setelah sebelumnya juga gagal menjebol gawang Middlesbrough di ajang Piala Liga serta kala bersua Manchester City dalam derby Manchester yang monoton.

Legenda hidup Setan Merah Paul Scholes, yang pernah menikmati 11 gelar Liga Primer di bawah tangan dingin Sir Alex Ferguson, bahkan mengaku takkan nyaman jika dirinya bermain di bawah arahan Van Gaal yang lebih mementingkan penguasaan bola.

“United jelas merupakan tim yang tidak ingin Anda lawan karena mereka memiliki organisasi permainan yang ketat. Tapi, sepertinya Van Gaal tidak ingin pasukannya untuk mengalahkan tim lain dan mungkin saya tak akan nyaman bermain di bawah arahannya,” ujar Scholes beberapa waktu lalu, menanggapi hasil mengejutkan yang diraih mantan timnya setelah disingkirkan Middlesbrough lewat drama adu penalti.

“Ruud van Nistelrooy, Teddy Sheringham, Andy Cole – mereka juga pastinya tidak bisa bermain di tim itu. Tim itu tidak banyak melepaskan umpan silang ke kotak penalti, para gelandangnya selalu dipaksa berlari. Saya pikir ini adalah tim yang sangat sulit untuk para penyerang.”

Para penyerang United memang kesulitan di musim ini. Bahkan Wayne Rooney kerap menuai kritik karena jarang menciptakan gol untuk timnya meski di level internasional ia terbilang tajam. Tak sampai di situ, banyak alis mata berkernyit ketika pemain muda briian seperti Anthony Martial justru dimainkan di sektor sayap kiri, dengan Rooney dijadikan sebagai penyerang utama.

Legenda Barcelona Xavi sebelum ini menyuarakan pendapatnya dengan menyarankan Rooney untuk berganti posisi, di mana ia menyebut kapten Inggris itu lebih baik turun lebih ke dalam dan berperan sebagai gelandang.

“Secara pribadi saya pikir Rooney masih memiliki banyak hal untuk ditawarkan, namun mungkin ini saat yang tepat buat dia untuk beradaptasi,” buka Xavi.

“Anda memasuki usia tertentu dan Anda tidak bisa bermain seperti sebelumnya, Anda tidak bisa menjelajah seluruh lapangan seperti yang kerap dilakukan. Namun para pemain pintar bisa beradaptasi, dan tidak diragukan lagi Rooney memiliki otak sepakbola yang sangat bagus.

“Mungkin ini adalah waktunya buat striker baru di Manchester United, yang bisa berlari selama 90 menit, namun Rooney tetap akan sangat berbahaya di peran yang lebih dalam. Dia memiliki visi dan jangkauan umpan untuk memainkan peran gelandang dengan sangat baik.

“Jika dia bisa beradaptasi, tidak ada alasan mengapa ia tidak bisa tampil di level sepakbola tertinggi untuk lima atau enam musim ke depan. Namun sebagai seorang pemain, Anda harus mengaku pada diri sendiri bahwa tubuh Anda berubah dan Anda tidak bisa lagi melakukan apa yang biasa dilakukan.”

Di pertandingan melawan Palace kemarin, statistik Opta mencatat United lebih banyak menguasai bola, dengan mencatatkan 55,4 persen penguasaan. Lebih dari itu, jumlah umpan yang dibukukan United pun jauh lebih banyak, di mana tedapat 456 umpan secara total – 101 lebih banyak ketimbang lawannya.

Meski demikian, dari strategi penguasaan tersebut, United menjadi kurang tajam saat menyerang sebagaimana hanya ada satu tendangan ke gawang yang mengarah ke gawang Palace kawalan kiper Wayne Hennessey – itu pun dari tendangan bebas. Jumlah itu tentu sangat kurang untuk tim mewah Setan Merah yang telah dipermak Van Gaal hingga lebih dari £250 juta.

Miris? Iya! Saat di tangan Sir Alex, United setidaknya selalu menjadi ancaman saat menyerang. Tak heran Scholes sampai geram melihat taktik yang diusung Van Gaal yang terbilang negatif dan tidak menggigit.

Mantan asisten Sir Alex, Rene Meulensteen, pernah mengungkapkan rahasia kesuksesan United dalam mengincar kemenangan dan tak jarang membalikkan keadaan saat tertinggal di era Ferguson.

Dalam keterangannya, Rene menyebut hal itu bukan kebetulan, dengan berkata: “Itu bukanlah keberuntungan. Hal itu dimungkinkan karena kualitas,” ujarnya kepada BBC Sports. “Anda melatih itu di saat latihan. Kami akan melakukan simulasi pertandingan di tempat latihan dan berkata kepada para pemain, ‘Kalian tertinggal 2-1 dan masih ada sepuluh menit lagi, dan kalian harus menang. Oke. Kini waktu kalian tinggal lima menit. Dan kini tersisa tiga menit.’

“Dengan sepuluh menit tersisa, Anda paling tidak harus mengirimkan bola ke kotak penalti sebanyak enam kali. Lima menit, mungkin bisa empat. Latihlah para pemain untuk mengatasi itu, untuk mempersembahkan kualitas di saat tertekan. Jika Anda hanya mengirim bola ke kotak penalti, maka hal tersebut takkan membuat Anda menang. Pikirkan tentang mengumpan.

“Lihat juga waktu yang ada. Jangan takut. Jika masih menunjukkan menit ke-82, maka Anda masih memiliki delapan menit ditambah empat menit tambahan waktu. Jadi totalnya 12 menit. Di sisa waktu tersebut, Anda paling tidak harus menempatkan tujuh bola berkualitas di kotak penalti lawan. Dan salah satu dari mereka harus berbuah gol,” tutup Rene.

Saat bertandang ke Selhurst Park kemarin, United secara total hanya melepaskan 14 umpan silang – dengan rasio sukses hanya 21,4 persen, kalah jauh dari Palace yang menempatkan 21 umpan silang yang terbilang cukup merepotkan (23,8 persen).

Manajer Palace Alan Pardew tak lupa angkat bicara mengenai penampilan United, yang ia sebut mengusung gaya bermain sabar. Dalam keterangannya, ia berkata: “Ini adalah gaya berbeda [di bawah Van Gaal], itu merupakan gaya yang sangat sabar,” ujarnya usai menahan imbang The Red Devils. “Sayatan adalah titik yang menjadi kekurangan mereka untuk saat ini.”

Senada dengan Pardew, gelandang Palace Yohan Cabaye juga menilai ada yang hilang dari permainan United, yang biasanya terkenal berbahaya dan tajam dalam mengiris lawan.

“Saya ingat ketika saya bermain melawan Man United untuk Newcastle, mereka itu bisa mencetak gol di setiap momen dalam pertandingan,” demikian Cabaye kepada wartawan. “Di sini, mereka tidak memiliki kesempatan emas untuk mencetak gol. Wayne Rooney memiliki tendangan bebas di babak pertama, dan hanya itu.

“Ya, mereka adalah klub besar dan ya, mereka bisa menguasai bola – umpan, umpan, umpan – namun jika Anda bekerja keras melawan mereka dan mempertahankan bentuk permainan yang bagus, maka mereka tidak bisa melakukan apapun untuk menembus atau mengungguli Anda.”

Yup, Cabaye memang benar. Tak selamanya penguasaan bola membuahkan kemenangan. Jangan pula mencoba meniru apa yang dilakukan Barcelona dengan penguasaan tingkat dewanya, karena United ditakdirkan untuk menyerang, bukan untuk ‘kucing-kucingan’ dengan lawan yang malah menghasilkan sepakbola kurang menawan.

Setelah 'hat-trick' ini, United akan menjamu CSKA Moskwa dalam lanjutan babak grup Liga Champions di Old Trafford, Rabu (4/11) dini hari WIB.