Turnamen Campus Cup Kecewakan Sponsor

UPI melakukan aksi WO sebagai sikap protes terhadap kepemimpinan wasit.

Pertandingan final turnamen Campus Cup di Malang berakhir antiklimaks setelah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melakukan aksi walk-over (WO) saat menghadapi Universitas Muhammadiyah Malang di Stadion Cakrawala kemarin.

Kejadian ini cukup mengecewakan pihak Torabika sebagai penyelenggara, karena fair play yang didengungkan di awal turnamen tidak terlaksana. 

“Sebagai sponsor kami memang cukup keecewa. Soal evaluasi nanti kami menunggu pihak penyelenggara. Kami di sini hanya sebatas pihak sponsor,” terang marketing Director Torabika Eka Semesta, Loni Lim.

UPI memilih WO sebagai protes terhadap kualitas wasit Bangil Saputra dari Kota Batu yang notabenenya masih berasal dari wilayah Malang Raya. Secara kasat mata terlihat jelas terutama di babak kedua jika wasit beberapa kali telah salah mengambil keputusan. Puncaknya, di menit ke-71 Bangil menunjuk titik putih untuk UMM yang kemudian membuat seluruh pemain UPI langsung ke luar lapangan.

“Kami dipukul, kami ditendang, namun tidak pernah ada pelanggaran untuk kami. Bahkan lawan mendapatkan penalti, tentu percuma saja dilanjutkan pertandingannya, karena mereka menginginkan UMM untuk menjadi juara,” cetus pelatih UPI, Ramdhan Breh.

“Sudah sejak awal berjalan seperti itu. Tidak kami saja yang memprotes, tetapi dari UM [Universitas Negeri Malang], Padang hingga Makassar, semua memprotes. Lihat semua di luar lapangan, semuanya memberikan dukungan kepada kami. Bahkan suporter tuan rumah (UM) memberikan aplaus kepada kami. Biarlah kami mundur saja, dan UMM yang menang karena saya pikir mereka sangat ingin piala itu.”

Dari sisi penyelenggaraan, memang banyak protes yang dilakukan oleh peserta, meskipun secara kasak kusuk. Salah satunya penggunaan pemain non-mahasiswa. Padahal kegiatan liga kampus seperti ini pesertanya harus mahasiswa. Beberapa tim justru menggunakan pemain yang bermain di kompetisi Liga 2.

“Memang pemahaman aturan untuk pemain profesional berbeda. Di aturan pemain yang tidak boleh main adalah yang terikat kontrak, sehingga banyak yang menggunakannya. Sementara untuk pemain non-mahasiswa kami belum menerima laporan seperti itu,” ujar ketua panpel Haris Tofli.

Sementara itu, Mahaka yang ditunjuk sebagai pelaksana event Torabika Campus Cup ini menyesalkan telah terjadi aksi WO yang dilakukan UPI. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang event ini tidak digelar PSSI. Mereka hanya bisa memberikan hukuman sebatas kampus itu tidak boleh ikut lagi tahun depan.

“Banyak laporan yang masuk ke kami, karena itu kami akan melakukan beberapa evaluasi terkait kejadian seperti ini, tentu agar tahun depan jika masih ada akan berlangsung lebih baik lagi,” tegas Tjahjadi Wanda selaku vice president mahaka sports.

Topics