Vendry Mofu - Pemain Yang Akrab Dengan Kartu Merah

Berselang satu pertandingan, Mofu harus diusir meninggalkan lapangan di saat laga belum berakhir.

Gelandang Semen Padang Vendry Mofu mendapat sorotan sebagai pemain yang kerap mendapat kartu merah di Piala Jenderal Sudirman. Terakhir, Mofu diganjar kartu merah dalam laga leg pertama semi-final akhir pekan kemarin melawan Pusamania Borneo FC di Stadion Segiri Samarinda.

Mofu diusir wasit Thoriq Alkatiri setelah menerima kartu kuning kedua pada menit ke-88 di saat Semen Padang berusaha mengejar ketertinggalan. Akibatnya, Pusamania mampu menggandakan keunggulan, sekaligus memastikan kemenangan menjadi 2-0 di masa injury time.

Padahal Mofu baru saja bebas dari sanksi satu pertandingan setelah sebelumnya juga mendapat kartu merah di babak delapan besar melawan Mitra Kukar, sehingga absen melawan Persija Jakarta.

Diusirnya pemain yang direkrut Semen Padang dari Persiwa Wamena tahun 2010 itu, sontak menjadi sorotan suporter Semen Padang, karena kartu kuning kedua itu masih layak diperdebatkan. 

Asisten manajer Verry Mulyadi lebih menyorot kemampuan lawan yang mampu mengeksplorasi emosi Mofu. Baginya, Mofu sudah bertugas dengan baik di lapangan. Bahkan dengan adanya Mofu, Pusamania harus bekerja keras di lapangan tengah.

“Saya kira kartu kuning kedua dari wasit masih bisa diperdebatkan, tapi itu keputusan wasit. Saya melihat Mofu hanya berusaha merebut dan melindungi bola,” ucapnya.

Terlepas dari itu, Mofu memang terkenal dengan riwayat perjalanan kariernya yang bertaburan kartu. Saat memperkuat Sriwijaya FC di Indonesia Super League (ISL) 2014, Mofu mendapat enam kartu kuning di putaran pertama, satu diantaranya berujung kartu merah. Catatan itu sempat membuat manajemen gusar.

Bahkan, torehan terbanyak Mofu dalam mengoleksi kartu kuning diperoleh saat membela Semen Padang di ISL 2010/11. Pemain berusia 26 tahun ini mendapatkan kartu kuning di 11 pertandingan.

Menurut Goal Indonesia, terlepas dari kompetisi Indonesia Premier League (IPL), Mofu sudah mengoleksi 31 kartu kuning sejak musim 2009/10, empat diantaranya berujung kartu merah, termasuk di Piala AFC 2010 bersama Persiwa Wamena.

Sebagai gelandang, gaya permainan Mofu menang keras, dan tak kenal kompromi. Tak jarang Mofu terbawa situasi, dan sering terpancing provokasi lawan, serta melakukan sejumlah pelanggaran tak perlu.

Pelatih Nilmaizar dalam beberapa kali kesempatan menyebut karakter pemain yang satu ini memang seperti itu, keras. Tapi Nil tetap percaya kepada pemain yang sempat hijrah ke Sriwijaya FC selama satu musim ini.

Untuk lapangan tengah, bersama Yu Hyun-ko, Mofu dianggap Nil masih menjadi pilihan pertama. Apa yang terjadi di laga semi-final, terlepas dari kartu merah yang diterimanya, Mofu masih bermain normal-normal saja, dia melakukan apa yang seharusnya dilakukan di lapangan.

Nil juga mengaku tak ada melakukan penanganan khusus, atau personal berkaitan dengan karakter dan gaya main Mofu. Bagi Nil, Mofu sama seperti pemain lain yang punya karakter masing-masing.

“Cuma karakter kerasnya kadang terbawa situasi di lapangan. Dia pastinya tak mau merugikan tim, tapi ketika tindakan-tindakannya berkonsekuensi kartu, itu adalah urusan wasit,” ucap Nil. (gk-33)