Waspada Sindrom Arogansi Manchester City

Jelang derby Manchester, United berada di puncak performa, tetapi City sedang terpuruk dalam segala aspek, plus dihantui sindrom arogansi pasca juara.

OLEH YUDHA DANUJATMIKA Ikuti di twitter

Derby Manchester tinggal hitungan hari dan semua analisis serta prediksi tentu memihak Manchester United. Ada yang menyampaikan statistik tentang performa United dalam beberapa pekan terakhir. Ada pula yang memaparkan sejarah pertemuan kedua klub – yang didominasi United. Jelang laga akbar di Old Trafford besok Minggu (12/4), alam semesta seolah mendukung United untuk keluar sebagai pemenang.

Well, editorial kali ini pun sebenarnya tak jauh dari hal-hal tersebut, tak jauh dari fakta sejarah serta hasil pengamatan yang “mendukung” kemenangan Si Setan Merah. Namun, ini bukan tentang United sepenuhnya, melainkan tentang kutukan, sindrom, tulah, atau apalah namanya yang membuat Manchester City tak mampu menjuarai Liga Primer Inggris secara beruntun.

Sindrom Arogansi City

Sebagaimana telah diketahui, The Citizens telah memuncaki Liga Inggris sebanyak empat kali dalam sejarah. Bukan pencapaian yang sehebat United maupun Liverpool, namun menjadi juara Liga Primer bukanlah hal yang mudah baik di masa lalu maupun masa ini. Namun, The Citizens selalu “terpeleset” setelah meraih gelar juara. Ya, mereka tak mampu mempertahankan performa juara mereka – seperti yang kita saksikan di musim ini.

Di musim 1936/37, City meraih gelar perdana mereka - sementara United terdegradasi ke kasta kedua sepakbola Inggris. Nama-nama tenar seperti Sam Barkas, Frank Swift, dan Eric Brook yang mewarnai skuat juara mereka tetap bertahan di musim selanjutnya. Namun apa yang terjadi sungguh di luar prediksi. Jangankan mempertahankan gelar juara, City yang diisi skuat bintang malah terdegradasi ke kasta kedua!

Mancini jadi korban sindrom arogansi City.

Hal yang mirip nyaris terulang ketika mereka meraih gelar kedua di musim 1967/68. Setelah bersusah payah merebut puncak klasemen dari tangan United dan keluar sebagai juara dengan keunggulan dua poin, pasukan Neil Young nyaris terdegradasi ke kasta kedua lagi. Untung saja ada kebangkitan tengah musim yang berhasil mendorong mereka naik hingga ke peringkat 13. Selain itu, musim buruk Citizens juga terselamatkan berkat menjuarai Piala Winners Eropa.

Setidaknya kita tahu “penyakit” City sudah ada sejak dulu, mereka selalu gagal mempertahankan performa juara mereka di musim selanjutnya. Era Roberto Mancini – yang berhasil menjuarai Liga Primer di 2011/12 – pun harus menghadapi masalah tersebut, sehingga sang manajer harus rela jabatannya dicopot ketika City puasa gelar dan tertinggal 11 poin dari United.

Sebut saja sindrom (atau kutukan) arogansi sebagai masalah utama mereka pasca juara. Pasalnya, setelah menggelar pesta juara dan jadi yang terkuat di Inggris, Citizens selalu terlampau jemawa dan kalap sehingga gelar tersebut lepas begitu saja.

Pellegrini Gagal Obati City?

Adanya sindrom arogansi dalam City juga diperkuat dengan performa yang mereka tunjukkan musim ini. Setelah memanfaatkan terpelesetnya Liverpool – dan Steven Gerrard secara harafiah – mereka berhasil menjuarai Liga Primer, tapi (lagi-lagi) mereka tak mampu mereplika performa juara mereka musim lalu. Jabatan Manuel Pellegrini di musim ini turut terancam.

Betapa tidak, City hanya mencatatkan empat kemenangan dalam 14 laga terakhir mereka di semua kompetisi sejak 10 Januari 2015. Dalam periode itu, mereka kembali disingkirkan oleh Barcelona di babak 16 besar Liga Champions, kalah dari Middlesbrough di Piala FA, lalu dihantam 2-1 oleh Crystal Palace di Liga Primer.

Selain menumpahkan kesalahan pada sindrom (atau kutukan) arogansi yang rutin menghantui, sebenarnya Pellegrini juga turut andil dalam penurunan grafik performa City.

Pertama, sang manajer tak memanfaatkan bursa transfer dengan baik. Skuat City sudah menua dan inkonsistensi Yaya Toure yang jadi pusat dominasi mereka sudah terlihat musim lalu. Dampak penuaan pada Vincent Kompany pun sedikit banyak sudah terlihat karena sang kapten sering gagal fokus, kehilangan bola, dan melakukan blunder di saat-saat menentukan.

Sayang, Pellegrini tak melakukan penyegaran skuat – kecuali Eliaquim Mangala – dan justru mendatangkan Wilfried Bony yang berfungsi sebagai komplementer. Jamie Carragher bahkan mengkritik keras skuat City yang sudah habis eranya.

Kedua, manajer asal Cili itu tak mampu memegang kendali dalam ruang ganti. Ia gagal menandingi kebintangan pemain seperti Yaya Toure dan Samir Nasri, bahkan terlalu bergantung pada nama pertama. Padahal, Pellegrini pernah menjadi sosok tangan dingin yang “membekukan” Roman Riquelme di bangku cadangan ketika ia menangani Villarreal.

“Riquelme termasuk dalam lima pemain terbaik di dunia dalam possiinya, tapi saya takkan memperterauhkan masa depan klub demi dirinya,” ujar Pellegrini. “Jika individu bekerja bagi tim, fenomenal. Jika mereka ingin melampaui tim, maka mereka harus keluar.”

Sayang, tangan dingin tersebut sudah terlampau hangat. Pellegrini sekarang melakukan apa yang pernah ia tentang ketika mengasuh Villarreal. Ia mempertaruhkan masa depan City dengan terus bergantung pada Toure yang sudah menginjak usia 31 tahun. Besar kemungkinan sindrom arogansi akan berlanjut karena salah asuhan sang manajer.

Derby Manchester, Taruhan Terakhir Pellegrini

Old Trafford akan menjadi saksi pertaruhan terakhir Pellegrini besok Minggu. Jika gagal meraih kemenangan, apalagi kalah dari rival sekotanya, peluang City untuk sembuh dari sindrom arogansi bakal memudar. Jarak ke puncak klasemen semakin terbentang lebar, sementara Liverpool bisa saja mengancam tiket Liga Champions mereka.

Adapun, di tengah tekanan dan performa buruk serta ancaman United di depan mata, Pellegrini tetap santai dan bersikeras timnya baik-baik saja.

"Saya mengerti kami tak memiliki hasil yang kami butuhkan pada laga tandang. Ya, 2015 bukanlah tahun yang bagus bagi kami, sebelum itu kami adalah tim terbaik di laga tandang," tegas Pellegrini, seperti dikutip Sky Sports.

"Kami kalah di tiga laga terakhir, terutama di sepasang laga terakhir saat kami kalah karena gol-gol bola mati melawan Burnley dan Crystal Palace. Kami berharap bisa melanjutkan hal bagus yang kami kerjakan karena kami tak berada dalam bencana, dan kami tak berantakan. Kami baik-baik saja dan akan melakukan banyak hal bagus.”

Soal benar-tidaknya komentar sang manajer bakal terbukti dalam derby Manchester – walau nyaris tak ada yang berpihak padanya. Dan seandainya skenario terburuk terjadi – kalah dari United, gagal juara, tergeser dari empat besar – bukan tidak mungkin Sheikh Mansour bakal mendepaknya dari Etihad.

addCustomPlayer('t15atpus7ys1f9p2w3om019e', '', '', 620, 540, 'perft15atpus7ys1f9p2w3om019e', 'eplayer4', {age:1426475269510});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.