WAWANCARA EKSKLUSIF: Vladimir Vujovic Tak Menyesal Datang Ke Indonesia

Bek asal Montenegro ini mengungkapkan kisahnya bersama Persib, serta sanjungan kepada Persipura, Bepe, dan Gonzales.

Kisruh sepakbola nasional yang berujung kepada sanksi FIFA memaksa sejumlah klub memutus kontrak para pemain asingnya, tak terkecuali Persib Bandung. Manajemen Persib akan melepas tiga legiun asing, dua diantaranya memberikan kontribusi besar ketika Maung Bandung menjadi kampiun Indonesia Super League (ISL) 2014.

Ketiga pemain yang bakal diputus kontraknya adalah Ilija Spasojevic, Konate Makan, dan Vladimir Vujovic. Nama terakhir merupakan sosok sentral Persib di barisan belakang. Pemain berusia 32 tahun ini pun terpilih sebagai bek terbaik musim 2014 versi pembaca Goal Indonesia dengan raihan suara 50,17 persen.

Vujovic mengaku memiliki kenangan indah selama 1,5 tahun bersama Persib. Kendati perpisahan dengan Persib bisa dibilang tidak menyenangkan akibat situasi persepakbolaan nasional, bek asal Montenegro itu tak menyesal berkarier di Indonesia.

Berikut pendapat Vujovic mengenai kariernya bersama Persib, tentang Persipura Jayapura, serta Bambang Pamungkas dan Cristian Gonzales, dalam wawancara khusus dengan kontributor Goal Indonesia Anggi Riwanto dan Pandu Persada:

Bisa diceritakan kembali awal mula bergabung dengan Persib?

Saat saya tiba di sini, saya hanya tahu sedikit tentang Persib. Saya tahu tentang tradisi, dan bobotoh Persib adalah yang terbesar di Indonesia. Saya tidak tahu tentang klub, atau para pemainnya, sama sekali tidak tahu. Di hari pertama, begitu banyak pemain asing yang menjalani trial. Itu tidak mudah bagi saya, ditambah dengan cuaca di sini. Saya merasa tidak maksimal pada latihan pertama, semuanya terasa sulit bagi saya. Selanjutnya kami menjalani laga uji coba kontra DC United, baru saya tahu kualitas tim cukup baik. Saat itu saya pun mulai berharap kita [Persib] dapat berbuat sesuatu yang spesial di kompetisi. Rasa kepercayaan diri ini berlanjut setelah menjalani laga-laga uji coba, dan di awal kompetisi.

Tekanan seperti apa yang dihadapi? 

Saya datang ke Indonesia dan langsung bergabung dengan klub besar. Sedangkan di Arab Saudi, sebuah klub di antara empat besar di Divisi Dua, yang kemudian naik kasta liga primer. Di sini kita menjalani laga demi laga dengan perlahan, dan berjalan semakin baik. Baru di laga-laga akhir, kami mulai merasakan tekanan. Di Persib, kami menargetkan untuk memenangkan setiap pertandingan. Ini berbeda dengan di klub sebelumnya. Ini sulit bagi kami, karena setiap klub yang kami hadapi ingin main 100 persen. Saya merasa nyaman ketika bermain, karena dukungan dari bobotoh yang selalu ada, baik saat bermain kandang atau pun tandang, seperti yang terjadi di Palembang [semi-final dan final ISL 2014].

Klub mana yang paling sulit dihadapi? 

Untuk tim, Persipura merupakan tim yang paling sulit dihadapi. Tim yang terorganisir, disiplin dan memiliki kerjasama antarpemain yang baik. Kami sangat kesulitan ketika bermain melawan mereka.

Siapa penyerang yang paling disegani?

Bambang Pamungkas pastinya. [Dia] Membunuh saya, meski tak mencetak gol di setiap laga. Saya sudah menghadapinya empat kali. Saya sudah fokus kepadanya lebih dari 100 persen, tidak seperti kepada penyerang lain. Juga Cristian Gonzalez. Keduanya adalah dua penyerang yang saya hormati. Saya sudah hadapi Emmanuel Kenmogne, Boakay Eddie Foday, dan James Koko Lomell yang punya kecepatan lebih dari saya, namun saya tahu bagaimana cara menghadapi mereka. Tapi untuk Bepe [sapaan Bambang] dan Gonzalez, saya buat persiapan khusus untuk diri saya sendiri.

Bagaimana Vlado bisa menjadi bek tersubur?

Saya tidak memikirkan soal gol saat bermain, saya hanya berusaha bermain sebaik mungkin. Mungkin ada sedikit keberuntungan, bisa juga karena crossing yang baik, jadi anda tak pernah tahu siapa yang akan cetak gol. Bisa saja Jupe [Achmad Jufriyanto], atau Abdurahman. Saya sering bilang, jangan lihat siapa yang akan cetak gol, fokus saja pada memenangkan pertandingan.

Momen terbaik selama kompetisi ISL 2014?

Kontra Arema adalah yang terpenting. Setelah kalah dari Semen Padang, Persib kurang percaya diri bisa lolos ke empat besar. Pelita Bandung Raya [sekarang Persipasi Bandung Raya], Persija [Jakarta] dan Sriwijaya FC punya peluang yang sama saat itu. Melawan Jepara cukup mudah namun saat menghadapi Kediri, kami cukup kesulitan. Kami mencetak gol setelah laga berjalan 60 menit, dan mendapat penalti yang mana saya yang menjadi eksekutornya. Saya bisa bilang itu adalah hal tersulit. Itu tendangan penalti, dan sangat penting. 


Vladimir Vujovic saat menerima trofi penghargaan sebagai bek terbaik Indonesia Super League (ISL) 2014 pilihan pembaca Goal Indonesia

Kekalahan dari Kitchee SC di Piala AFC karena absennya seorang Vlado?

Saya tidak yakin soal itu. Karena, di beberapa laga sebelumnya, kami pun bermain tak terlalu bagus. Kami tidak saling menyalahkan, karena melihat bagaimana Kitchee dalam bertahan, dan menyerang sangat baik, dan membuat Persib tak berdaya. Mereka bermain lebih baik saat itu. Jarak antarpara pemain mereka hanya dua hingga tiga meter.

Apa komentar soal Kisruh sepakbola nasional?

Vlado: Saya tidak bisa berkata banyak mengenai konflik ini, saya hanya bisa kecewa. Ini tidak hanya saya, dan teman-teman di Persib, tapi juga semuanya termasuk para suporter. Saya kecewa pada situasi saat ini. Saya hanya bisa menunggu bagaimana tentang kejelasan situasi saya. Saya berencana bertemu Umuh [Muchtar, manajer Persib]. Dia orang yang melakukan banyak hal baik kepada saya. Saya mempercayakan semua hal kepadanya. Seperti yang saya lihat di sebuah media cetak, manajemen ingin melepas para pemain asingnya, kemana saya harus pergi? Selain pulang ke rumah tanpa pekerjaan selama mungkin dua hingga tiga bulan. Saya mengerti akan hal itu, namun mereka juga harus mengerti dengan kondisi saya. Saya ikuti apa yang ada dalam kontrak dan berlatih setiap hari. Umuh tahu yang terbaik bagi para pemain. Dia merasakan apa yang kita rasakan akan situasi ini. 

Lantas apa yang bisa dilakukan sekarang?

Tidak ada yang bisa saya lakukan sekarang. Di Montenegro juga saat ini sedang musim liburan, mungkin sedikitnya tiga bulan, dan pindah ke Serbia hanya untuk melakukan persiapan mencari klub baru. 

Bagaimana keluarga menghadapi hal ini?

Mereka justru senang dengan hal ini, karena memiliki banyak waktu untuk bisa dihabiskan bersama.

Bagaimana perasaannya ketika harus meninggalkan Persib?

Akan sangat sulit bagi saya, saya tahu itu. Khususnya saat ini keluarga saya sudah terbiasa tinggal di sini, dan Luna pergi ke sekolah, namun itulah hidup. Saya sudah mengunjungi banyak kota, banyak negara. Akan sulit selama beberapa bulan. Saya pikir klub merasa berat melepas saya dan Konate, juga Spaso [Illija Spasojevic] yang barus saja bergabung. Saya dan Konate sudah setahun di sini, dan klub harus melepas kami. Saya mengerti itu. Saya sudah merasakan hal itu sebelumnya. Sekarang saya hanya bisa menunggu.

Adakah penyesalan sudah datang ke Indonesia? 

Tidak. Saya tidak menyesal menjalani 1,5 tahun di Indonesia. Saya mendapat banyak teman baru. Tahun ini lebih baik dari segi kehidupan saya, namun tahun lalu lebih baik ketimbang tahun ini dari segi kompetisi sepakbolanya.

Bobotoh melakukan aksi unjuk rasa, intinya menuntut kompetisi segera dikembalikan. Bagaimana pendapat Vlado?

Saya selalu berada di pihak bobotoh. Tapi saya pikir demostrasi tidak bisa membantu menyelesaikan masalah. Saya mengerti jika mereka ingin menunjukkan rasa kekecewaannya, saya tidak suka jika demonstrasi tersebut melukai seseorang. Saya tahu hal itu, karena terjadi juga di negara saya. Saya tidak mengerti tentang situasi yang sebenarnya, jadi saya tidak bisa bicara banyak tentang solusi terbaiknya.

Harapannya untuk Persib, dan kompetisi domestik?

Saat bergabung dengan Persib, dan kami meraih hasil yang baik, saya berpikir yang selanjutnya akan semakin sulit. Saya sudah berusia 32 tahun, dalam beberapa bulan mendatang menjadi 33 tahun. Saya tidak tahu hingga kapan tubuh ini mendengarkan saya. Mungkin tidak semua orang tahu soal ini, dan berharap bisa mengulangi kesuksesan musim lalu. Namun kadang tubuh ini tidak mendengarkannya. Saya ingin dikenang tentang hal-hal yang baik oleh semua orang, jadi lebih baik pergi meninggalkan sebuah klub setelah menunjukkan usaha maksimal. Itulah yang saya pikirkan.

Akan banyak pemain yang datang, tapi yang terpenting adalah hasil terbaik bagi Persib, sehingga mereka akan menemukan pengganti yang terbaik bagi saya, atau pemain lainnya. Ada beberapa pemain yang sudah berusia di atas 30 tahun. Persib harus membuat perubahan untuk masa depan.

Saya berharap semua pihak dapat memperbaiki kondisi saat ini secepat mungkin. Tapi saya pikir tak ada seorang pun yang memberi kesempatan agar tercipta suatu kesepakatan. Sekali lagi ini saya tidak punya kapasitas untuk membicarakan konflik ini. (gk-52 & gk-68)