Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Levain Cup

Selain J.League sebagai liga utama, Jepang memiliki kompetisi lain sebagai pendamping bernama Levain Cup, apa itu?


OLEH    ERIC NOVEANTO     Ikuti di twitter


Sebagai raksasa sepakbola Asia, Jepang kerap menjadi rujukan negara-negara berkembang lainnya soal tata kelola kompetisi profesional dengan produk utama mereka, J.League menjadi salah satu yang terbaik lintas benua.

J.League selaku liga utama tak dimungkiri punya popularitas yang sangat tinggi di seantero Asia. Namun tahukah Anda, selain liga utama, klub-klub profesional Jepang juga memiliki kompetisi kompetisi pendamping bernama J.League Cup.

Apa itu Levain Cup?

J.League Cup atau yang biasa dikenal dengan nama Yamazaki Nabisco Cup atau Levain Cup karena ikatan perjanjian dengan pihak sponsor adalah turnamen yang secara umum menerapkan sistem seperti Piala Liga Inggris, meski bedanya hanya dikhususkan untuk klub-klub profesional.

Levain Cup sendiri merupakan kompetisi profesional tertua di Jepang. Digulirkan sejak 1992, eksistensi Levain Cup dimaksudkan untuk menjadi pengganti Piala Liga Jepang sebelumnya, Japan Soccer League Cup yang sudah ada sejak 1973 dengan para peserta dari kalangan amatir.

Bagaimana dengan format Levain Cup?

Cukup unik, Levain Cup merupakan salah satu kompetisi sepakbola Jepang yang kerap berubah-ubah dalam hal format. Banyaknya perubahan yang hampir terjadi setiap tahun disebabkan oleh penyesuaian jadwal internasional yang diikuti tim nasional Jepang seperti Olimpiade hingga Piala Dunia.

Perubahan format sejauh ini terbagi ke dalam tiga fase, yang pertama dengan sistem turnamen pada periode 1992-1998, awalnya diikuti oleh sepuluh klub perintis kompetisi profesional Jepang hingga kemudian jumlah peserta berkembang seiring berjalannya waktu dalam kurun enam tahun tersebut.

Seiring dengan pemekaran jenjang kasta liga (J.League 1 dan 2), maka format Levain Cup berubah untuk kedua kalinya pada1999-2001. Seluruh klub dari kedua kasta saling berhadapan, tidak ada lagi pembagian grup dengan masing-masing saling diundi untuk berhadapan dalam dua leg kecuali laga final.

Sementara fase ketiga perubahan format terjadi mulai tahun 2002 hingga sekarang ini. Fase ini hanya diperuntukan tim-tim asal kasta tertinggi (J.League 1) dan tak ada lagi pertemuan klub beda kasta. Soal jumlah peserta juga kerap mengalami perubahan dikarenakan bentrok jadwal dengan Liga Champions Asia.

Yang menarik dari Levain Cup?

Kendati tak memberikan garansi tiket menuju pentas Liga Champions Asia, gelaran Levain Cup tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi klub-klub profesional Jepang. Sebagai kompetisi pendamping, Levain Cup bisa menjadi ajang pemasukan tambahan karena memiliki hadiah yang menggiurkan. Untuk pemenang, hadiah sebesar ‎¥100 juta atau setara dengan Rp12,8 miliar menjadi imbalan.

Data dan fakta seputar Levain Cup

Sejak bergulir pada 1992 silam, Kashima Antlers merupakan klub tersukses dengan koleksi enam trofi juara, klub yang berasal dari prefektur Ibaraki tersebut juga menyandang sebagai status juara bertahan setelah sukses berpesta tahun kemarin dengan mengalahkan Gamba Osaka 3-0 di parta puncak.

Untuk tahun ini yang merupakan edisi ke-24, turnamen sudah berjalan sejak Maret lalu dan memasuki babak semi-final. Kashima Antlers dipastikan tak bisa mempertahankan mahkota juara mereka lantaran tersisih dini di fase grup. Tersisa empat tim, yakni Gamba Osaka, Yokohama F. Marinos, FC Tokyo dan Urawa Red Diamonds yang akan saling berjibaku demi mengangkat titel di Saitama Stadium 2002 pada 15 Oktober mendatang.

Di samping itu, Levain Cup juga tak ketinggalan memberikan apresiasi bagi pada pemain yang berjuang dengan dua penghargaan individu, yakni pemain terbaik (MVP) dan pemain U-23 terbaik (New Hero Award). Yang menarik, para pemain lokal Jepang kental mendominasi penghargaan MVP. Sepanjang sejarah, baru ada lima pemain asing yang semuanya asal Brasil mampu menjadi MVP. Gelandang veteran Mitsuo Ogasawara dinobatkan sebagai MVP tahun lalu setelah sukses bersama Kashima Antlers.