Zinedine Zidane Di Mata Legenda Juventus

Zinedine Zidane adalah sosok yang cukup melekat di benak loyalis Juventus, legenda klub pun mengurai kisah romantisme bersama jawara Piala Dunia itu.

Legenda Juventus Paolo Montero menilai pelatih Real Madrid Zinedine Zidane adalah sosok yang sangat bersahaja. Montero mengetahui betul kepribadian pria Prancis itu setelah keduanya pernah bahu-membahu bersama dengan balutan seragam Bianconerri 19 tahun yang lalu.

Kini, Zidane akan menghadapi klub yang telah membesarkan namanya di final Liga Champions 2016/17. Bagi Montero, Zizou tetaplah figur yang selalu menunjukkan kerendahan hati, bagaimana pun kesuksesan yang diraihnya di Santiago Bernabeu saat ini.

"Zidane sungguh diberkati. Dia adalah rekan terbaik yang pernah saya dapati. Salah satu orang yang sederhana dan rendah hati yang pernah saya temui. Sekarang dia menunjukkan jika dia juga adalah pelatih yang hebat," ujar Montero dikutip News18.

"Dalam kehidupan di Juventus, saya belajar jika pribadi yang terbaik adalah orang yang paling rendah hati. Mereka yang banyak membimbing dan berbagi. Tidak ada kata "Saya", tapi hanya ada kata "Kami". Itulah yang saya pelajari ketika saya mendarat di Juventus."

Montero mengenang memori saat tampil bareng Zidane sebagai personel di Juventus, menghadapi partai final Liga Champoins 1998 kontra Real Madrid. Itu jadi momen yang tak terlupakan karena menyimpan banyak pilu di dalamnya.

Seperti diketahui, kala itu Los Blancos keluar sebagai juara berkat sebiji gol Predrag Mijatovic. Malam yang penuh rasa frustrasi bagi Montero dan Zidane.

"Kami masuk ke final dengan reputasi favorit. Sayangnya itu adalah pertandingan yang ditentukan dengan sedikit hal sepele, mereka mencetak gol setelah defleksi," kenang Montero.

"Itu merupakan memori yang sangat menyedihkan sejak kami tidak berhasil menjuarainya. Tapi, memang sejarah menunjukkan jika Real adalah yang paling berhasil di final, karena mereka menjaga [tradisi] juara."

Seperti halnya Zidane, Montero saat ini juga menjadi pelatih di liga dengan intensitas tekanan yang tinggi, yakni Argentina. Adalah Rosario Central, tim yang dipoles pria 45 tahun itu.

"Ada banyak tekanan, tapi saya menganggapnya hal positif. Saya selalu ingin tumbuh dan Anda mengasah diri Anda dengan gaya sepakbola di sini," tambahnya.